Tips Berbisnis

Mengurangi Stok Mati dengan Aturan Pembelian Ulang Sesuai Kecepatan Penjualan

Rak yang penuh belum tentu menandakan usaha berjalan sehat. Ketika barang terlalu lama tersimpan, modal tertahan, ruang penyimpanan menyempit, dan pembelian berikutnya menjadi semakin sulit diatur. Dalam Bisnis, kondisi ini sering muncul karena pemilik memesan barang berdasarkan kebiasaan, tawaran pemasok, atau perkiraan yang belum diperiksa. Padahal, setiap produk memiliki kecepatan penjualan berbeda sehingga membutuhkan aturan pembelian ulang yang berbeda pula. Dengan membaca catatan penjualan, menghitung kebutuhan selama waktu pengiriman, dan menetapkan batas persediaan, Anda dapat mengurangi risiko stok mati sekaligus menjaga barang yang benar-benar dibutuhkan pelanggan tetap tersedia.

Memahami Penyebab Stok Mati dalam Bisnis

Barang yang terus tertahan di gudang perlu dikenali melalui rekaman pembelian pelanggan, bukan perkiraan berdasarkan pengamatan sesaat. Satu jenis barang mungkin tampak mencukupi, tetapi belum mendatangkan pembelian selama masa pencatatan. Jangka pemeriksaannya harus ditentukan menurut jenis barang. Makanan segar membutuhkan pemeriksaan lebih sering, sedangkan barang tahan lama boleh mengikuti periode lebih panjang. Tujuannya adalah mengenali penumpukan sebelum membesar.
Penyebab penumpukan sering berkaitan dengan jumlah pembelian yang berlebihan, pergeseran selera pembeli, atau pilihan produk yang terlalu banyak. Potongan harga pembelian kadang menyebabkan keputusan yang kurang tepat ketika pemilik hanya mengejar harga murah. Harga beli yang rendah tidak otomatis meningkatkan keuntungan apabila produk terus tersimpan. Karena itu, evaluasi pertimbangan pengadaan terakhir sebelum membeli barang lagi, termasuk apakah pembelian pelanggan dipengaruhi acara tertentu.

Mengukur Kecepatan Penjualan sebagai Dasar Pembelian

Langkah awalnya adalah pengumpulan informasi dasar untuk setiap produk. Catat jumlah unit terjual, stok tersedia, serta periode kehabisan persediaan. Kecepatan penjualan harian bisa diperoleh melalui pembagian jumlah barang terjual terhadap hari yang diamati. Sebagai contoh sederhana, produk yang terjual 60 unit dalam 30 hari memiliki rata-rata penjualan dua unit sehari. Hasil perhitungan ini menjadi titik awal untuk menetapkan kebutuhan persediaan.
Meski demikian, angka penjualan harian perlu dibaca bersama konteksnya. Item yang tidak selalu tersedia bisa tampak kurang diminati karena kesempatan transaksi terlewat. Sebaliknya, promosi besar bisa menyebabkan perkiraan kebutuhan menjadi berlebihan. Tandai penjualan yang dipengaruhi penawaran khusus agar perhitungan lebih masuk akal. Periksa hasil dari beberapa minggu berbeda untuk memahami pola pembelian pelanggan, terutama ketika mendekati acara musiman.

Menyesuaikan Pembelian dengan Kelompok Kecepatan Produk

Setelah data terkumpul, susun kelompok persediaan berdasarkan pola penjualan aktual. Barang dengan permintaan tinggi membutuhkan pemeriksaan lebih rapat agar tetap tersedia saat dibutuhkan. Produk dengan penjualan sedang dapat mengikuti jadwal pemeriksaan rutin. Pada barang yang berbeda, item yang jarang dibeli membutuhkan pengadaan yang lebih terkendali. Pemisahan berdasarkan pergerakan memudahkan pemilik memusatkan perhatian pada item yang berpengaruh pada kelancaran penjualan.
Tidak perlu menyeragamkan volume pengadaan untuk seluruh produk. Item dengan penjualan harian mungkin memerlukan pemesanan lebih sering, sedangkan item yang jarang keluar perlu memakai pesanan yang lebih sedikit. Tetap pertimbangkan nilai barang dan masa simpannya. Barang mahal yang lambat terjual berpotensi membatasi dana operasional, meskipun stok fisiknya terlihat kecil. Bila memungkinkan, sediakan barang melalui pesanan khusus untuk membatasi persediaan menganggur.

Menghitung Waktu Pemesanan agar Stok Tetap Terkendali

Titik pembelian ulang menunjukkan kapan persediaan perlu dipesan kembali. Perhitungan dasarnya adalah perkiraan penjualan sepanjang waktu tunggu ditambah cadangan persediaan. Sebagai gambaran perhitungan, produk terjual dua unit sehari dan waktu tunggunya lima hari. Kebutuhan selama menunggu mencapai sepuluh unit. Apabila stok pengamannya empat unit, pesanan mulai dipicu pada posisi persediaan 14 unit. Besarnya persediaan tambahan harus disesuaikan dengan kondisi usaha.
Setelah mengatur kapan memesan, tentukan jumlah stok yang ingin dicapai. Volume pembelian baru dapat diperoleh dengan pengurangan posisi persediaan dari target stok. Jumlah yang diperhitungkan dalam pemesanan memperhitungkan barang di tangan, pesanan pemasok yang belum tiba, serta komitmen pengiriman kepada pelanggan. Pendekatan tersebut mengurangi pembelian yang bertumpuk. Sesuaikan dengan batas pembelian dari pemasok, jumlah isi per kemasan, dan ruang gudang yang tersedia sebelum menyetujui pembelian.

Memperbaiki Pengadaan sambil Menyelesaikan Stok Tertahan

Aturan pembelian baru harus diikuti tindakan terhadap barang yang menumpuk. Pastikan mutu persediaan sebelum menyusun program penjualan, termasuk kondisi fisik dan batas penggunaan. Untuk barang yang masih layak, pertimbangkan paket penjualan yang relevan, penataan ulang tampilan barang, atau pengenalan kepada pembeli yang membutuhkan. Hindari memberikan diskon tanpa perhitungan karena biaya pengemasan dan penyaluran tetap berpengaruh. Bila pemasok menyediakan pilihan, bahas opsi pengembalian maupun pertukaran barang.
Lakukan evaluasi berkala untuk menilai efektivitas aturan. Amati jumlah barang lama, berapa sering permintaan tidak terpenuhi, dan dana yang tersimpan dalam persediaan. Apabila penumpukan turun sementara produk utama kerap kosong, pengaturan persediaan membutuhkan perbaikan. Periksa ulang waktu tunggu pemasok, laju penjualan terbaru, dan stok pengaman. Catat alasan setiap perubahan agar tim memahami keputusan. Dengan kebiasaan ini, pengadaan dapat mengikuti kebutuhan.

Kesimpulan: Mengurangi Stok Mati dengan Aturan yang Konsisten

Menekan persediaan yang tertahan membutuhkan hubungan yang jelas antara pembelian pelanggan, waktu pengiriman, dan jumlah pembelian. Catatan yang konsisten memudahkan pengelola menentukan prioritas setiap barang. Selanjutnya, batas pemicu pesanan dan jumlah persediaan yang direncanakan membantu mengarahkan keputusan. Pada kegiatan Bisnis, pendekatan ini membantu membatasi dana yang tertahan, selama aturannya dievaluasi secara berkala.
Anda dapat memulai dengan beberapa produk utama, kemudian menerapkan aturan pada produk lainnya. Dahulukan item yang paling banyak menahan modal dan lihat hubungan antara kebutuhan dan barang tersedia. Jadikan temuan tersebut untuk menyesuaikan pesanan baru, sambil memenuhi kebutuhan pelanggan yang berulang. Penyesuaian kecil yang dilakukan teratur membuat pengaturan stok semakin tertata. Dari pengamatan Anda selama ini, barang mana yang paling lama tertahan? Silakan bagikan pengalaman Anda tentang langkah penanganannya.

Related Articles

Back to top button